Ahlan Wa Sahlan




Assalamu'alaikum, sahabat. Silahkan melihat - lihat !! Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Wassalam.

Kamis, 22 Desember 2011

Small Win : 3 Skill Untuk Para (Calon) Entrepreneur





Oleh Muhaimin Iqbal
Minggu, 18 December 2011

Tanpa saya sadari ternyata saya sudah lebih dari 20 tahun belajar usaha. Perusahaan saya yang pertama berdiri pada tahun 1991 bermitra dengan warga keturunan, kemudian tahun 1994 bermitra dengan para teknokrat dan birokrat – diantaranya ada yang kemudian menjadi rektor ITB dan ada pula yang menjadi menteri , kemudian lagi tahun 2001 bermitra dengan para aktivis dst. Semua usaha-usaha tersebut gagal sehingga saya ‘terpaksa’ tetap menjadi eksekutif di perusahaan orang lain sampai 2008. Bahkan usaha-usaha yang saya rintis ketika menjadi full-time entrepreneur-pun lebih banyak yang gagal ketimbang yang berhasil. Meskipun demikian satu dua yang berhasil diantara sekian banyak yang gagal – sungguh sudah merupakan sesuatu yang sangat berharga untuk ‘membayar’ seluruh kegagalan-kegagalan tersebut.

Rupanya berani gagal, dan bahkan tidak menyerah setelah berulang kali gagal dan babak belur dengan kegagalan-kegagalan adalah sesuatu yang common dari riwayat hidup para entrepreneur. Keberadaan para ‘pemberani’ ini sangat dibutuhkan untuk berkembangnya ekonomi dalam suatu negeri. Para entrepreneur adalah seperti nyala api busi pada mesin ekonomi, mereka yang meng-aktivasi dan menstimulir seluruh kegiatan ekonomi. Sehingga tidak heran bila maju tidaknya ekonomi suatu negeri tidak lepas dari tumbuh tidaknya jiwa entrepreneur para penduduknya.

Energy, kreativitas dan motivasi para entrepreneur-lah yang mendorong lahirnya berbagai produk-produk baru baik berupa barang maupun jasa. Para entrepreneur jugalah yang menjembatani gap antara kebutuhan dan keinginan masyarakat dengan ketersediaan barang dan jasa yang sesuai. Mereka para entrepreneur yang mengintegrasikan dan mensinergikan seluruh sumber daya yang dibutuhkan untuk produksi barang dan jasa.

Lebih dari itu semua, para entrepreneur jugalah yang menanggung semua resiko bila segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan yang semestinya – seperti dalam berbagai pengalaman kegagalan saya tersebut diatas. Tetapi justru dari kegagalan-kegagalan inilah kita bisa belajar sesuatu yang kemudiannya akan sangat berarti.

Pelajaran pertama yang saya ambil adalah ternyata semangat untuk ber-entrepreneur saja tidak cukup. Tidak cukup hanya dengan memiliki ide yang cemerlang diatas kertas, kemudian Anda bisa melompat keluar dari tempat kerja Anda terus langsung menjadi seorang entrepreneur. Entrepreneurship adalah skills atau ketrampilan, membangunnya tidak cukup dengan membaca buku atau duduk di bangku kuliah –membangunnya melalui cara mengasah, jatuh bangun dan terus mencoba itulah cara terbaik untuk mengasahnya.

Setelah entrepreneurship skill terbangun sekalipun dan Anda sudah memiliki suatu usaha yang berjalan baik, tidak berarti usaha-usaha berikutnya akan dengan mudah pula dilahirkan. Mengapa demikian ?. Karena entrepreneurship skill hanyalah salah satu dari setidaknya 3 skills yang dibutuhkan untuk suksesnya suatu usaha, dua skills yang lain yang mutlak dibutuhkan adalah technical skill dan managerial skill.

3 Basic Skills for Entrepreneur

3 Basic Skills for Entrepreneur

Ketika pertengahan tahun 90-an usaha saya bersama para teknokrat gagal adalah justru karena tidak cukup technical skill yang kami miliki. Team kami sangat menguasai ilmunya dibidang teknologi informasi yang paling maju saat itu, tetapi ternyata belum cukup infrastructure untuk aplikasinya sehingga tidak cukup pas untuk memenuhi kebutuhan pasar yang kami tuju.

Ketika awal 2000-an saya gagal dibidang retail mulai dari makanan, pakaian dan berbagai kebutuhan sehari-hari lainnya – kegagalannya adalah karena tidak cukup managerial skills untuk pengelolaaanya. Mengontrol inventory dan cash flow untuk perdagangan retail ternyata sungguh tidak mudah.

Pertengahan tahun 2000-an mulai ada usaha saya yang berhasil, meskipun kecil saya sangat suka dengan yang satu ini. Saya menyebutnya sebagai small win saya – kemenangan kecil yang bisa menjadi inspirasi untuk usaha-usaha berikutnya yang lebih meaningfull di kemudian hari.

Usaha kecil ini bernama Rumah Madu. Kebutuhan yang ingin saya isi saat itu adalah kebutuhan pengobatan yang sesuai syar’i untuk melawan berbagai pengobatan alternatif yang cenderung kepada kemusrikan. Masyarakat muslim pada umumnya sudah percaya bahwa madu adalah obat karena ada di Al-Qur’an dan juga hadits, masalahnya adalah ternyata tidak mudah untuk menemukan madu yang bener-bener madu. Maka setelah need ini ditemukan menggunakan entrepreneurship skill yang mulai terbangun dari serangkaian kegagalan sebelumnya, kini tinggal membangun technical skill dan managerial skill-nya.

Untuk technical skill dibidang permaduan, saya udeg-udeg perpustakaan IPB – hanya untuk mengetahui bagaimana mendeteksi madu yang bener-bener asli. Saya menemukan setidaknya ada 20 thesis dari S1-S3 di IPB yang terkait dengan madu saja, ini memberi saya ilmu yang sangat memadai sebagai bekal. Tetapi ilmu saja tidak cukup, saya perlu melihat di lapangan bagaimana bisa mengetes madu yang asli. Maka saya kunjungi lembaga yang berama Pusat Lebah Nasional – Lokasinya di tengah hutan Parung Panjang – yang pimpinannya saat itu bahkan tidak bisa menjelaskan mengapa dipilih lokasi yang nun jauh disana.

Dari kunjungan dan komunikasi dengan pimpinan lembaga tersebut saat itu, akhirnya saya tahu bagaimana mengetahui keaslian madu melalui 11 elemen tes-nya. Masalahnya adalah untuk bisa mengetes 11 elemen yang akan menunjukkan apakah objek yang dites adalah madu yang memenuhi standar diperlukan serangakain alat yang canggih yang nggak mungkin terbeli oleh usaha kecil yang akan saya bangun. Sempat saya beli beberapa peralatan seperti PH-meter, spectrometer sampai refractometer/polarimeter – tetapi akhirnya pusing sendiri karena menjadikan saya masuk terlalu dalam ke teknis.

Cara yang mudah meskipun tidak murah akhirnya saya minta bantuan Sucofindo untuk menganalisa setiap batch madu yang kami beli dari supplier local maupun impor. Melalui laboratorium mereka yang memang sangat diakui di dunia industri, sejak saat itu saya bisa mengetahui apakah madu yang saya beli dari supplier tersebut bener-bener madu yang sesuai SNI madu atau tidak.

Setelah technical skill terselesaikan, masih ada masalah besar yang menyangkut managerial. Yaitu continuity supply madu yang bisa memenuhi standar SNI dan pengendalian cash flow. Mayoritas supplier madu yang sanggup mengirim sejumlah besar madu ke saya, rata-rata gagal memenuhi standar SNI ketika sample-nya di tes di Sucofindo dengan 11 elemen tesnya. Maka saya hanya gunakan satu atau dua supplier saja yang memang bener-bener bisa memenuhi standar yang diperlukan.

Masalah yang paling besar adalah di pengendalian cash flow. Bila madu saya taruh di supermarket, apotik dlsb. saya akan butuh modal yang besar karena harus mengadakan sejumlah besar stok yang ditaruh secara konsinyasi di berbagai supermarket dan apotik tersebut. Sedangkan madu bukanlah termasuk kebutuhan yang cepat perputarannya, walhasil modal besar tersebut akan seret dan numpuk di supermarket dan apotik.

Lagi-lagi solusi datang dari pengalaman kegagalan-kegagalan mengelola cash flow sebelumnya, akhirnya madu hanya saya jual tunai baik langsung ke pelanggan ataupun ke para agen. Dengan cara ini sederhana sekali kontrol saya, ketika stok di gudang madu berkurang – maka cash madu saya harus naik sejumlah stok madu yang berkurang tersebut.

Dengan pengendalian teknis dan managerial tersebut, usaha Rumah Madu ini tidak menjadi cepat besar, tetapi juga tidak bangkrut – kecil keuntungannya tetapi besar manfaatnya. Dia menjadi model small win untuk saya – untuk menginspirasi usaha lain yang lebih berarti. Insyaallah.

Kamis, 15 Desember 2011

RIZKI ADALAH COBAAN

Sahabat, siapa yang tak kenal dengan yang namanya rizki.... Rizki yang datangnya tak pernah diundang...perginya tak pernah tahu...Penuh rahasia...Penuh misteri ??

Siapapun yang beriman maka ia akan bilang bahwa rizki itu sebuah rahasia, seperti halnya jodoh, hidup dan kematian kita....

Tapi ada satu hal yang pasti tentang rizki...yaitu harus diusahakan.....
Ingin sehat, maka jaga pola makan....Ingin pandai, maka belajarlah....Ingin memiliki istri yang sholihah, maka sholehkan diri kita
Bahkan jika kita ingin kaya, maka.....bekerjalah....
Tapi ingat, Sahabat....tetap saja diakhirnya ...rizki adalah keputusan Yang Empunya.....

So, rizki itu tidak hanya sebatas materi...kesehatan...pendidikan...teman yang banyak...istri dan anak yang sholeh dan sholihah ...
Begitu banyak...tinggal kita....mau mensyukuri...atau mengkufuri....

Senin, 03 Januari 2011

Lelaki Subuh


Oleh Rts.Mardiyati Ismail

“Mba.. aku punya temen yang aneh banget lho...“ adikku berkata tiba-tiba memecahkan kesunyian sore itu.

’’Hmm..’’ aku hanya menggumam mendengar pernyataan adikku tanpa melepaskan tatapan mataku dari buku yang sedang kunikmati isinya.

’’Bener lho Mba, dia tuh salah satu orang ter-aneh yang pernah aku jumpai..’’ lanjut nya lagi.

’’Ya...wajar aja lah dek...orang aneh kayak kamu, pasti temennya juga aneh kan...?’’ Aku hanya menjawab pernyataan adikku sekenanya, sambil tersenyum menggodanya.

’’Mba...mau denger nggak sih?..ini serius..ntar mba rugi kalo gak mau dengerin aku..’’ lanjutnya dengan nada sedikit lebih tinggi.

’’Ya...kalau kamu merasa dia aneh...jangan dijadiin temen doong...sekarang aja kamu tu dah aneh banget...ntar gaul sama dia...bisa mampus Mba ngadapin kamu...’’ jawabku sekenanya.

Adik bungsu ku itu tidak memperdulikan jawabanku barusan. Melihat aku meletakkan bukuku, dengan muka yang serius dan berkerut dia mulai bercerita. Seperti biasa, kalau ekspresinya sudah begini, maka..sesibuk apapun aku –dengan terpaksa ataupun dengan kerelaan- aku HARUS punya waktu untuk mendengarkannya. Kebetulan adikku sedang weekend di kotaku. Dia sedang menyelesaikan studi masternya di salah satu kota di daerah barat Jerman, tetapi saat ini dia sedang melakukan pratikum (kalau di Indonesia setara dengan kerja praktek) di salah satu kota di bagian selatan. Kebetulan aku tinggal di kota antara barat dan selatan, sehingga dia mampir sebentar sekalian untuk menjengukku.

’’Aku kenal dia belum sampai setahun di tempat aku pratikum.’’ Adikku mulai bertutur. Pertama kali aku kenal dengan dia, orangnya sih biasa saja...nothing special. Mungkin karena kita sama-sama dari Indonesia, apalagi sesama muslim....so..akhirnya kita jadi dekat dan akrab...’’.tuturnya perlahan.

Hmm...tumben..pikirku...

Aku sangat kenal tabiat adikku yang satu ini. Dia tidak mudah untuk menyatakan seseorang itu adalah teman dekatnya. Adikku ini dalam bergaul emang teramat sangat jaim dan introvert.

’’Tumben...kamu punya temen deket dek...yang Mba tau..temen yang kamu anggap deket sejak lahir ampe sekarang kamu idup kan gak sampe 5 biji...hihi...’’ kembali aku menggodanya.

’’Pasti ada sesuatu yang yang membuat kamu betah dekat dengan dia, bener nggak?’’ kali ini aku mencoba meraba, gerangan apakah yang membuat adikku ini bisa akrab dengan mahluk yang katanya aneh ini.

’’Mba tau..??’’

’’Ya nggak lah, wong kamunya belum bilang kok.....gimana Mba bisa tau?’’ dengan sengaja aku memotong pembicaraannya.

’’Aku benar-benar menyayanginya dengan sepenuh hatiku’’. Adikku berkata lembut dengan sorot mata penuh kekaguman.

’’WHAT...wie bitte..?? Barusan kamu bilang apa??..entar dulu...orang yang sedang adek bicarain ini laki apa perempuan sih??’’ tanyaku bergegas.

’’Pffhh...Mba..ini..nyebelin banget! Ya cowok lah...’’ jawabnya ketus.

’’Emm...cowok toh...’’ jawabku ringan sambil tersenyum lebar.

’’Ikhwan?’’ timpalku lagi.

’’Hmm..kalo yang Mba maksud adalah lelaki berjenggot dan dengan segala atributnya...mungkin dia gak termasuk kategori ini deh, ,, ’’

‘’So...dia lelaki jenis yang mana,,, ?’’ tanyaku datar.

‘’Susah buat memberi definisinya..yang aku tau..kalau dilihat dari luarnya, dia adalah lelaki biasa-biasa saja. Tampangnya dan gaya bicaranya gaul banget. Tetapi..kalau kita kenal dia lebih jauh, bagiku dia adalah cowok keren, dengan segala makna yang terkandung di dalamnya!’’ kembali adikku berkata dengan sorot mata berbinar.

‘’Tapi tadi katanya dia mahluk aneh?.kok sekarang jadi mahluk keren?..gak konsisten kamu ah....’’ kembali aku menggoda adik bungsuku ini.

Hmm..kalau kata-kata pujian atau kekaguman keluar dari mulut adikku ini, berarti kualitas orang yang sedang dibicarakannya adalah memang bukan sembarangan. Adikku ini sangat pelit dengan pujian, atau mengakui kekagumannya kepada seseorang. Karena dia punya standar yang cukup tinggi dalam memberikan penilaian. Bagiku wajar saja, toh dia sendiri adalah kebanggaan di keluarga kami. Dia menyelesaikan S1-nya di jurusan teknik dalam waktu 3, 5 tahun dengan predikat cum laude di Institut bergengsi.

Semenjak semester kedua kuliah dia sudah hidup mandiri dengan hasil keringatnya sendiri. Mendapatkan beasiswa top-ten student Indonesia dan penghasilan di sana sini dengan kepiawaiannya mengajar. Selain padat dengan jadwal kuliah dan mengajar privat, dia menyempatkan diri pula untuk mengajar mengaji anak-anak di masjid dekat rumah kontrakan kami. Menghidupkan masjid, mencarikan orang tua asuh bagi anak-anak kurang mampu yang menjadi murid mengajinya, dan bahkan terkadang merangkap menjadi imam dan muadzin, bahkan tukang ojek part time mama kalau pergi ke pengajian.

‘’Coba Mba tebak ya...dia..pasti sholeh? Bener nggak?

Trus...pekerja keras. Iya khan?.and...apalagi ya?.ah, palingan seputar itulah..gak bakalan jauh-jauh dari situ..iya kan??’’ Kataku dengan senyum penuh kemenangan. Karena aku yakin sekali, tebakanku kali ini tidak akan meleset jauh.

’’Secara umum bener sih. Tapi cara sholehnya itu loh mba, yang gak masuk dalam jangkauan akalku...’’ jelasnya sambil menerawang jauh.

‘’Maksudnya? Mba gak ngerti..’’ tanyaku dengan sedikit rasa penasaran dibenakku.

’’Kita sekarang ini bukan sedang di Indonesia Mba. Kalau aku temuin dia di Indonesia, ato di Bandung misalnya..mungkin bagiku sih biasa aja.

Tapi, kalau untuk ukuran di sini -di Jerman- hmm..berat!’’. tuturnya sambil menghela nafas.

Aku terdiam sejenak dan mulai menaruh perhatian pada apa yang barusan diucapkan oleh adikku. Dalam hati aku membenarkan ucapan adikku barusan. Untuk istiqomah tetap pada aturan Allah di sini tidaklah semudah mengucapkannya. Butuh perjuangan dan kesungguhan penuh. Untuk melakukan ibadah rutin –sholat lima waktu- tidaklah semudah di Indonesia. Belum lagi untuk selalu berhati-hati dalam segala hal, menjaga diri dari makanan haram dan menjaga pandangan misalnya. Benar-benar butuh azzam.

‘’Dia temenmu sama-sama kuliah? Dia sedang ambil Master juga di sini? Dia ikut tarbiyah?’’ tanyaku beruntun.

’’Aku ketemu dia ketika sedang pratikum di Ulm. Dia juga sedang berjuang menyelesaikan program masternya’’.

‘’Beasiswa?’’ tanyaku penasaran.

’’Ndak. Dia kuliah sambil bekerja part-time di sini’’.

’’Maksud Mba, beasiswa dari keluarga’’ timpalku sambil tersenyum simpul.

‘’Ndak juga. Dia tidak mau menerima kiriman dari orang tuanya dari Indonesia. Dia nggak tega, soalnya mereka sudah cukup tua katanya’’. jawab adikku sambil tetap menjawab dengan nada serius.

‘’Oo..gitu..’’ jawabku sambil berfikir, mencari bagian yang aneh tentang temennya tersebut.

‘’Mba tau, setiap waktu sholat tiba..dia akan segera berwudhu, mengenakan pakaian terbaiknya, dan... selalu mengumandangkan adzan di kamarnya’’. lanjut adikku dengan kalem.

‘’Maksudmu?’’ adzan di apartementnya?’’ tanyaku untuk memastikan pendengaranku.

‘’Iya. Bila kita kebetulan tidak sedang di luar apartement, dia selalu melakukan hal tersebut’’.

‘’Bahkan ketika kamu sedang berada di kamarnya?’’ selidikku lagi.

’’Iya, dia tidak pernah perduli apakah lagi sendiri ataukah ada teman yang sedang mengunjunginya. Bila waktu sholat telah tiba, dia dengan cueknya adzan di kamarnya dengan suara yang syahdu dan mengajak sholat berjamaah’’. Dengan semangat adikku menjelaskan.

’’Hmm...unik juga ya..’’ sahutku sambil mencerna ucapan adikku.

Setelah hening sejenak, aku kembali bertanya kepada adikku.

’’Adek pernah tanya ke dia nggak, kenapa dia melakukan hal itu?’’ selidikku penasaran.

’’Pernah sih, setelah aku mati penasaran melihat tingkahnya yang nggak cuma sekali itu’’.

’’Trus...apa jawabannya?’’ Kucondongkan mukaku menanti jawaban dari mulut adikku.

’’Dia bilang waktu sholat sudah tiba, dan dia merasa berkewajiban untuk menyeru menegakkan sholat, menghadap Allah untuk mencapai kemenangan“. lanjut adikku.

’’Tapi kan kadang-kadang di apartemennya cuma ada dia sendirian...so, dia adzan buat siapa?’’ lanjutku dengan nada yang sedikit tecekat di tenggorokan.

’’ Iya.emang..’’ jawab adikku dengan sorot mata berkaca, menggigit bibir bagian bawahnya, berusaha menahan agar bulir kristal dari bening matanya tidak tertumpah.

Mengertilah aku kini, gerangan perasaan yang tengah melanda di hati adik bungsuku ini. Dia tengah dilanda cemburu. Cemburu kepada saudaranya yang mengekspresikan rasa cintanya kepada Allah dengan cara yang tidak pernah terlintas di kepalanya.

’’Mungkin itu emang ibadah ’andalannya’ ’’ lanjutku hanya untuk sekedar menetralisir perasaannya.

’’Kamu kan juga punya ibadah favorit yang selalu berusaha istiqomah kamu lakukan dari dulu sampe sekarang’’. Kuucapkan kata-kataku dengan sebijak dan setenang mungkin.

Adikku hanya diam, menatapku dengan tatapan yang sulit untuk aku terjemahkan.

’’Kamu Insya Allah masih istiqomah kan untuk selalu sholat subuh di masjid?’’ tanyaku lagi seraya menatap matanya hanya untuk sekedar memastikan.

Adikku mengangguk perlahan.

’’Subuh di masjidnya di semua musim kan? Maksud Mba, mau summer ataupun winter kamu tetap sholat subuh di masjid kan?’’ lanjutku berusaha untuk mencairkan suasana.

Adikku kembali mengangguk.

’’Tapi dia juga selalu sholat subuh di Masjid Mba. Mau sedingin apapun winter di sana, dia tetap untuk berusaha sholat subuh di Masjid’’. Lanjut adikku lagi.

‘’Asik doong, kalo gitu kamu punya temen buat sholat subuh’’ lanjutku lagi dengan nada setenang mungkin, dengan segenap gemuruh cemburu didadaku.

Subhanallah, dari dasar hati yang terdalam, aku benar-benar memberikan dua jempol untuk mereka berdua. Untuk sholat shubuh tepat waktu, serta berjamaah di masjid -di negeri ini- benar-benar dibutuhkan energi kesholehan yang luar biasa. Aku tahu, tidak semua orang sanggup melakukannya. Hanya orang-orang yang sudah terbiasa melakukannya dan menjadi bagian yang tak terpisah dari jiwanya saja yang akan sanggup melaksanakannya. Dengan jadwal shubuh yang tidak tetap seperti di Indonesia, dengan masjid yang tidak selalu ada di setiap kota, serta dengan jiwa yang selalu berusaha istiqomah melakukannya, tentu, hanya akan bisa dilakukan oleh orang-orang pilihan saja!

’’Aku mempunyai beribu kenangan indah dengan temanku ini Mba. Dari dia aku belajar banyak hal. Tentang arti ketulusan, kejujuran, kelembutan hati, dan terutama cara dia mengekspresikan cintanya kepada Allah. Pernah suatu hari sedang terjadi gerhana bulan. Dia menelponku dan mengajakku untuk melakukan sholat sunat gerhana bulan di Masjid. Karena dia mengikuti beberapa kajian di Masjid, Imam Masjid di sana cukup dekat dengan dia, sehingga dia mendapatkan informasi tentang adanya sholat gerhana bulan tersebut. Aku sih senang-senang saja diajak sholat gerhana bulan. Apalagi waktu itu hari Jumat, dan kupikir Insya Allah tidak akan lama.

Aku nggak tau kalau yang bakalan jadi imamnya ternyata seorang hafidz Quran. Di rakaat pertama beliau membaca surat Ali imron, dan di rakaat kedua kalau aku nggak salah Beliau membaca surat An-Nisa. Kebayang kan berapa lama jadinya?’’ adikku bercerita dengan bersemangat tapi dengan mimik muka yang masam.

Aku hanya tersenyum geli mendengar cerita adikku.

‘’Wah, bagus buatmu dong dek! Jadi sekalian ngulang hafalan Ali Imronmu..haha..’’ aku berkata seraya tak kuasa menahan gelak tawaku, karena terbayang di benakku wajah adikku yang manyun dengan kaki yang pegal dan hati bertanya-tanya, kapan sholatnya bakalan kelar!

‘’Dan Mba tau nggak?? Tadinya aku mau complaint tentang imam yang gak ‘care’ banget dengan jamaah yang mungkin cape karena surat yang dibacanya panjang baget ke temanku itu. Tetapi ketika aku melihat wajahnya yang begitu bahagia dan tidak sedikitpun terlihat letih, aku urungkan niatku untuk sedikit ‘’complaint’’. Aku tidak habis pikir, semangat apa yang ada di dalam jiwanya, sehingga dia tidak terlihat lelah sedikitpun kala itu. Karena aku tahu, beban kuliah ditambah dengan beban untuk mencari rezeki untk menyambung hidup di sini, sudah cukup untuk membuat kita letih.

Setelah sholat gerhana bulan selesai, aku dan temanku pulang dengan mengendarai sepeda kami dan dengan udara yang teramat sangat dingin. Mba pasti bisa membayangkan gimana cuaca jam 3 pagi di musim dingin di daerah selatan Jerman. Tapi ketika itu, yang aku rasakan hanyalah kehangatan suasana persaudaraan karena Allah semata. Begitu indah. Di negeri yang hampir sebagian besar penduduknya tidak mengenal Allah, kutemui saudaraku yang begitu dalam kecintaannya kepada Allah, yang bukan hanya sekedar di bibir saja. Karena tatap mata tidak pernah berdusta Mba. Aku benar-benar temukan binar mata dengan luapan rasa cinta yang begitu indah pada dirinya, ketika dia beribadah kepada Allah. Dia benar-benar mengayuh sepedanya pulang kerumah dengan segenap energi cintanya kepada Allah. Kalau mengingat kejadian itu, aku jadi malu sendiri dan serasa bermimpi. Hari gini, di sini, kutemui salah seorang yang dalam pandanganku begitu mencintai Allah. Dan di hati kecilku aku bertanya, bagaimanakah keadaaan para sahabat di zaman Rosulullah, sahabat dan para salafus sholeh?? Bagaimana cara mereka mengekspresikan rasa cintanya kepada Allah?’’ adikku menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya dengan penuh kegalauan.

Sungguh, akupun hanya bisa termangu ketika mendengarkan cerita adikku tentang temannya yang ‘aneh’ itu. Dan aku menjadi penasaran dengan keanehan yang mungkin saja masih ada dalam dirinya.

‘’Trus, kerjaan ‘aneh’ apalagi yang dia lakuin selain itu dek?’’ tanyaku untuk mengetahui kebaikan tersembunyi apalagi yang bisa aku gali dan berharap bisa belajar banyak darinya. Adikku tersenyum misterius dan menggeleng gelengkan kepalanya perlahan.

‘’Kalau aku ceritain ke Mba, Mba pasti bilang aku sedang membual’’ jawab adikku sekenanya.

‘’Ya nggak lah, Insya Allah Mba percaya kok. Lagian kan gak ada untungnya juga buat kamu kalau kamu bohong’’ jawabku berusaha meyakinkannya.

‘’Pernah suatu hari, secara tidak sengaja dia menggunakan wireless internet connection yang tidak di password sama yang punya. Setelah selesai memakainya, dia baru tersadar, kalau itu sebenarnya adalah bukan haknya. Mba tau, apa yang kemudian dia lakukan?’’ Tanya adikku seraya menatapku dalam.

Aku hanya diam dan menggelengkan kepala.

‘’Dia berusaha mencari sang empunya wireless internet connection itu. Dia datangi rumahnya, dengan tujuan supaya sang pemilik menghalalkan internet connection yang telah dipakainya karena kekhilafannya.’’ papar adikku.

Aku hanya melongo mendengarkan penuturan adikku.

‘’Dan...apa dia ketemu dengan sang empunya’’ tanyaku penasaran.

’’Sayangnya tidak. Tetapi dia mendatangi rumah tersebut hingga tiga kali untuk menyempurnakan ikhtiarnya’’. Lanjut adikku lagi seraya menghela nafas.

’’Kok seperti kisah ayah Imam Hanafi yang minta dihalalkan sang empunya apel, karena telah memakan buah apelnya secara tidak sengaja ya dek?’’ komentarku spontan.

’’Benar. Aku juga memikirkan hal yang sama dengan yang Mba pikirkan. Itulah dia temanku itu. Dia begitu Hanif. Refleksi dari kesholehannya itu kadang-kadang membuat aku iri. Dan terkadang sesuatu yang unpredictable bagiku, tidak bisa kuduga. Aku benar-benar bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan aku dengan orang seperti dia, sehingga banyak yang telah aku pelajari dari dia. Cara dia beribadah dan menjaga diri dari sesuatu yang tidak halal baginya. Cara dia mejaga diri dan menjaga pandangan. Serta llisannya yang selalu menyebut nama Allah dalam setiap pembicaraannya, menunjukkan betapa dia begitu mencintai Rabbnya. Dia adalah sahabatku, saudaraku. Bagiku ia adalah sosok seorang pemuda sholeh yang tidak dikenal, ahli ibadah yang tersembunyi di ujung Jerman.’’ Adikku berkata syahdu dengan segenap perasaan sendu yang tidak kumengerti.

Setelah mendengar cerita adikku itu, lama aku merenung, mencoba memahami hikmah dan pelajaran yang Allah sampaikan kepadaku. Teringat akan salah satu artikel yang pernah aku baca di majalah Tarbawi edisi 133. Ketika Allah kagum pada seorang pengembala. Dengan apa? Bila tiba waktunya untuk sholat, di padang lapang itu, ia berdiri mengumandangkan adzan. Sendirian. Lalu sholat. Sendirian. ’’Sesungguhnya Tuhanmu kagum kepada seorang pengembala kambing’’. Begitu Rasulullah menjelaskan. Istimewa? Ini baru istimewa. Ya bahkan sangat istimewa. Seperti diriwayatkan Abu Dawud dan Nasa’i, setelah pengembala itu melakukan shalat, Allah SWT berfirman: ’’Lihatlah hamba-Ku ini, ia adzan, lalu mendirikan sholat. Ia takut kepada-Ku. Aku telah mengampuninya, dan aku masukkan ia ke surga.’’

Subhanallah. Di zamanyangpenuh fitnah, masih ada pemuda-pemudayangtetap taat beribadah kepada Allah. Pada zaman ketika kebaikan dan keburukan menjadi begitu tak jelas maknanya. Pada tempat di mana segala kemaksiatan begitu bebas terbuka untuk dilakukan oleh siapa saja...bagiku...keberadaan mereka benar-benar luar biasa. Bak oase di gersangnya sahara. Menyejukkan.

Di penghujung senja, dalam sejuta kecamuk didadaku. Berbaur bangga, cemburu dan bahagia, kutitip do’a pada malaikat yang bertugas hari itu.

Semoga Allah selalu berikan kekuatan istiqomah kepadamu brother. Tetaplah menjadi lelaki subuh. Tetaplah kumandangkan adzan hingga getar cinta dalam syahdunya suaramu menggetarkan kerajaan langit dan segenap penduduknya. Tetaplah teguh dalam kesolehanmu. Dalam kesendirianmu. Tetaplah menjadi pemuda yang tidak dikenal oleh segenap penduduk bumi, tapi selalu menjadi pembicaraan di seluruh penjuru langit yang tinggi...karena kesholehanmu, karena kecintaamu kepada Allah SWT.

Mainz.
Winter season.

Sabtu, 09 Januari 2010

QANA'AH

Qana’ah (rela dan menerima pemberian Allah Subhanallah Wata’ala apa adanya) adalah suatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi orang yang diberikan taufiq dan petunjuk serta dijaga oleh Allah Subhanallah Wata’ala dari keburukan jiwa, kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadaan memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta.
Namun, meskipun demikian kita dituntut untuk memerangi hawa nafsu supaya bisa menekan sifat tamak dan membimbingnya menuju sikap zuhud dan qana’ah. Berikut ini beberapa kiat menuju qana’ah yang jika kita laksanakan maka dengan izin Allah Subhanallah Wata’ala seseorang akan merealisasikannya :
1. Memperkuat keimanan kepada Allah Subhanallah Wata’ala
Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah Subhanallah Wata’ala karena hakikat kaya itu ada di dalam hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun fia tidak mendapatkan makan di hari itu.
Sebaliknya siapa yang hatinya fakir maka meskipun dia memiliki dunia seisinya kecuali hanya satu dirham saja, maka dia memandang bahwa kekayaannya masih kurang sedirham, dan dia masih terus merasa miskin sebelum mendapatkan dirham itu.
2. Yakin bahwa rizki telah tertulis
Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana hadits dari Ibnu Mas’ud Radiyallahu anhu, disebutkan sabda Rasulullah Sholallahu alaihi wassalam diantaranya, “Kemudian Allah Subhanallah Wata’ala mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
Seorang hamba hanya diperintahkan untuk berusaha dan bekerja dengan keyakinan bahwa Allah Subhanallah Wata’ala yang memberikan rizkinya dan bahwa rizkinya telah tertulis.
3. Memikirkan ayat-ayat Al-Quran yang Agung
Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). Amir bin Abdi Qais pernah berkata, “Empat ayat di dalam Kitabullah yang apabila Aku membacanya di sore hari maka aku tidak akan peduli atas apa yang akan terjadi padaku sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi hari, maka aku tidak akan peduli dengan apa Aku akan berpagi-pagi, yaitu surah Fathir : 2 , Yunus : 107 , Huud : 6 , Ath-Thalaq : 7.
4. Ketahui hikmah perbedaan rizki
Diantara hikmah Allah menentukan perbedaan rizki dan tingkatan seorang hamba dengan lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar-menukar manfaat, tumbuh aktifitas perkonomian, serta agar antara satu dengan yang lain saling memberikan pelayanan dan jasa.
5. Banyak memehon qana’ah kepada Allah
Rasulullah adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah diberikan rasa qana’ah, beliau berdoa, “Ya Allah berikan Aku sifat qana’ah terhadap apa yang telah engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR. Al-Hakim). Dan karena saking qana’ahnya beliau tidak meminta kepada Allah melainkan sekedar cukup untuk kehidupan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau, “Ya Allah jadikan rizki keluarga Muhammad hanyalah kebutuhan pokok saja.” (HR. Bukhari Muslim dan At-Tirmidzi)
6. Menyadari bahwa rizki tidak diukur dengan kepandaian
Kita harus menyadari bahwa rizki seseorang itu tidak bergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktifitas, keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab datangnya rizki, namun bukan ukuran secara pasti.
Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.
7. Melihat ke bawah dalam hal dunia
Dalam urusan dunia hendaknya kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada orang yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Rasulullah, “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika saat ini anda sedang sakit maka yakinlah bahwa selain anda ada lagi lebih parah sakitnya. Jika anda merasa fakir maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan seterusnya.
8. Membaca kehidupan para shahabat dan orang-orang terdahulu
Yakni melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana’ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperoleh harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih membutuhkan.
9. Menyadari betapa beratnya pertanggungjawaban harta
Bahwa harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemiliknya jika dia tidak mendapatkannya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula.
Ketika seorang hamba ditanya tentang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab 2 kali, yakni dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia membelanjakannya. Hal ini menunjukan beratnya orang yang diberi amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih lama dibandingkan orang yang lebih sedikit hartanya.
10. Melihat realita bahwa orang fakir dan orang kaya tidak jauh berbeda
Karena seorang yang kaya tidak mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya dalam satu waktu sekaligus. Kita perhatikan orang yang paling kaya di dunia ini, dia tidak makan kecuali sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan mungkin lebih banyak yang dimakan oleh orang fakir. Tidak mungkin si kaya makan lebih dari 50 piring bukan…meskipun dia mampu untuk membeli dengan hartanya. Andaikan si kaya memiliki seratus potong baju maka si kaya hanya memakai sepotong saja bukan…sama yang dipakai oleh orang fakir, dan harta selebihnya yang tidak ia manfaatkan maka itu relative (nisbi).
Sungguh indah apa yang diucapkan Abu Darda Radiyallahu anhu “Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian dan kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kamipun naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedangkan kita terbebas darinya.”

Jumat, 20 November 2009

Top 6 Keys to Being a Successful Teacher

By Melissa Kelly, About.com

The most successful teachers share some common characteristics. Here are the top six keys to being a successful teacher. Every teacher can benefit from focusing on these important qualities. Success in teaching, as in most areas of life, depends almost entirely on your attitude and your approach.

1. Sense of Humor
A sense of humor can help you become a successful teacher. Your sense of humor can relieve tense classroom situations before they become disruptions. A sense of humor will also make class more enjoyable for your students and possibly make students look forward to attending and paying attention. Most importantly, a sense of humor will allow you to see the joy in life and make you a happier person as you progress through this sometimes stressful career.

2. A Positive Attitutude
A positive attitude is a great asset in life. You will be thrown many curve balls in life and especially in the teaching profession. A positive attitude will help you cope with these in the best way. For example, you may find out the first day of school that you are teaching Algebra 2 instead of Algebra 1. This would not be an ideal situation, but a teacher with the right attitude would try to focus on getting through the first day without negatively impacting the students.

3. High Expectations
An effective teacher must have high expectations. You should strive to raise the bar for your students. If you expect less effort you will receive less effort. You should work on an attitude that says that you know students can achieve to your level of expectations, thereby giving them a sense of confidence too. This is not to say that you should create unrealistic expectations. However, your expectations will be one of the key factors in helping students learn and achieve.

4. Consistency
In order to create a positive learning environment your students should know what to expect from you each day. You need to be consistent. This will create a safe learning environment for the students and they will be more likely to succeed. It is amazing that students can adapt to teachers throughout the day that range from strict to easy. However, they will dislike an environment in which the rules are constantly changing.

5. Fairness
Many people confuse fairness and consistency. A consistent teacher is the same person from day to day. A fair teacher treats students equally in the same situation. For example, students complain of unfairness when teachers treat one gender or group of students differently. It would be terribly unfair to go easier on the football players in a class than on the cheerleaders. Students pick up on this so quickly, so be careful of being labelled unfair.

6. Flexibility
One of the tenets of teaching should be that everything is in a constant state of change. Interruptions and disruptions are the norm and very few days are 'typical'. Therefore, a flexible attitude is important not only for your stress level but also for your students who expect you to be in charge and take control of any situation.

Sabtu, 14 November 2009

Menangani Tiks pada Anak

Menurut M. Ninik Handayani, S.Psi, TIKS itu adalah........

Aduuuh... jari tanganku kenapa ya??? Ilustrasi: Aria/dok.Mombi

Tiks adalah gerakan tubuh yang sekonyong-konyong, berulang-ulang, di mana otot-otot bergerak tanpa tujuan, tanpa sengaja, impulsif, dan terus menerus. Lazimnya, setelah kedipan mata, diikuti gerakan muka, leher, dan bahu mengalami Tiks.

Ada tiks otot dan ada tiks verbal. Tiks otot adalah gerakan. Tiks otot meliputi kerutan dahi, juluran lidah, batuk, sentakan kepala, mulut. Sementara, tiks verbal berupa suara yang diulang-ulang, kadang-kadan berupa pengulangan frase, misalnya "Eh, tahu, nggak?"

Rentan terhadap Anak Laki-Laki
Tiks lebih sering terjadi dalam kondisi tertekan dan lebih banyak diderita anak laki-laki. Biasanya tiks dimulai pada usia 4-12 tahun, dan paling sering terjadi di usia 7-9 tahun.

Penyebabnya antara lain: ketegangan, karakter orang tua yang pencemas, reaksi terhadap trauma, konflik yang tidak terselesaikan, serta sebab-sebab fisik.

Menangani Tiks
Berikut beberapa tips yang disampaikan M. Ninik Handayani, S.Psi., untuk menangani tiks pada anak.

1. Bantulah anak untuk mengekspresikan perasaannya dan membangun rasa percaya diri. Anak memerlukan figur yang dapat dipercayainya untuk membicarakan semua perasaan dan fantasinya tanpa ia harus merasa malu atau takut.

2. Ketegangan di dalam keluarga, seperti pertengkaran, peraturan yang kaku, sebisa mungkin dihindari. Akan jauh lebih baik bila orangtua menunjukkan kasih sayang kepada anaknya dan mengatakan bahwa segala sesuatu akan dapat diatasi.

3. Ketika anak baru menunjukkan gejala awal tiks, jangan mengomel ataupun membentak. Reaksi berlebihan terhadap tiks justru akan meningkatkan ketegangan anak, sehingga semakin membiasakan tiks tersebut. Sebaliknya, berikanlah rasa aman, dan bangunlah rasa percaya dirinya.

4. Berilah anak hadiah kecil untuk waktu-waktu yang dilaluinya tanpa tiks. Untuk menghindarkan anak merasa malu dan marah, bicarakan dengan bersikap santai. Orangtua tidak perlu menuntut anak untuk melakukan sesuatu pun atas tiks-nya.

5. Latihlah anak mengatasi kecemasan. Caranya dengan menunjukkan bagaimana otot-otot betul-betul rileks. Mula-mula mintalah anak menegangkan otot lalu mengendurkannya perlahan-lahan, begitu seterusnya sampai ia merasa lemas dan semakin lama anak mampu mempertahankan keadaan ini. Mintalah ia untuk membayangkan sesuatu yang menyenangkannya untuk memudahkan timbulnya perasaan tenang.

6. Latihlah anak untuk menyadari dan mencatat frekuensi terjadinya tiks. Orangtua perlu menunjukkannya setiap kali tiks terjadi. Biasanya tiks akan berkurang atau bahkan menghilang dengan sendirinya.

7. Tiks dapat dihilangkan dengan cara melatih ‘munculnya’ tiks dengan sengaja dan kemudian sengaja pula menghentikannya. Lakukan sampai anak merasa lelah dan menganggap ini sebagai permainan. Lakukan minimal 3x seminggu, selama ½ jam.

8. Anak dilatih melakukan respons yang menyaingi kebiasaan tiksnya. Respons saingan ini harus membuat anak lebih menyadari kebiasaannya sekaligus menghalangi kebiasaan tersebut (tiks tidak dapat terjadi bila respons saingan dilakukan), serta dapat dipertahankan untuk jangka waktu tertentu dan tidak mengganggu aktivitas normalnya. Misalnya, untuk tiks menyentakkan kepala, atau dagu ditekankan dalam-dalam ke dada.

9. Mintalah ia untuk mengamati dirinya sendiri di depan cermin dan sengaja melakukan gerakan tiks tersebut. Ajaklah anak membayangkan dirinya sendiri dalam berbagai situasi di mana ia terlibat di dalamnya tanpa melakukan tiks.

10. Ajari anak untuk meminta bantuan pada orang lain. Ini penting untuk mengingatkannya bila ia melakukan tiks. Kerabat dan teman-teman anak perlu membantunya dan memberi pujian atas usahanya serta betapa ia tampak lebih menyenangkan tanpa tiks. (Giana Lenggawati/Mombi)

Kamis, 05 November 2009

Montessori untuk Mandiri

Michelle Obama tengah menyaksikan anak-anak bermain di LAMB (Foto: Zimbio.com)

Di antara berbagai metode pengajaran sekolah usia dini, montessori terbilang populer. Metode belajar karya Maria Montessori ini bertujuan melatih anak untuk mandiri. Orangtua yang mempunyai anak usia sekolah mungkin pernah mendengar istilah montessori.

Maklum, saat ini telah banyak sekolah anak usia dini, terutama di perkotaan, yang menerapkan metode ini. Namun ketika ditanya, tak banyak orangtua yang mengetahui tentang apa sih sebenarnya montessori itu?

Menurut Koordinator Pengembangan Kurikulum "Twinkle Star", Lely Tobing, filosofi dari montessori adalah untuk melatih anak menjadi mandiri. Di samping membaca dan menulis, anak belajar segala aspek kehidupan, seperti minat, alam, dan science.

"Metode ini menekankan pada pembelajaran individu dengan tujuan melatih anak menjadi independen. Selain itu, harus ada ketertarikan yang spontan pada saat anak mengerjakan segala sesuatu. Mereka juga menyebut 'jam belajar' dengan 'jam bekerja', jadi istilahnya adalah working, bukan studying," papar wanita yang biasa disapa Lely ini.

Di luar negeri seperti Selandia Baru dan Singapura, sekolah full montessori biasanya memiliki montessori hour yaitu sekitar 3,5 jam. Satu jam awal merupakan peak hour (jam puncak), di mana anak secara maksimal menyerap segala sesuatu yang dipelajarinya.

"Untuk metode belajar sebenarnya dikategorikan active learning karena anak belajar sesuai dengan kemampuan dan minat si anak sendiri. Biasanya guru akan membuatkan perencanaan yang bersifat individual untuk setiap anak. Jadi walaupun anak berada pada kelas yang sama, aktivitasnya bisa berbeda-beda," papar lulusan London Montessori Center ini.

Ciri lain dari sekolah montessori adalah banyaknya penggunaan alat permainan dan educational game yang terbagi dalam lima area montessori (biasanya disebut corner), yaitu area practical life untuk pembelajaran aktivitas sehari-hari, area sensorial, bahasa, matematika, dan budaya. Setiap alat punya tujuan langsung dan tidak langsung, tapi bisa distimulasi dengan alat-alat itu.

Pengajaran dilakukan melalui tahapan pengenalan (introduction), progres, hingga si anak benar-benar mampu (master). Itulah sebenarnya yang disebut real montessori report, yaitu berdasarkan bagaimana si anak mampu menguasai alat-alat bermain yang ada dalam kelas montessori.

Keunikan montessori, rapornya tidak menggunakan sistem ranking, seperti angka atau nilai A, B, dan C. Selain itu, anak-anak tidak dipicu kompetisinya, karena tidak ada nilai atau ranking. Sekolah yang murni montessori juga tidak mengenal sistem hukuman dan imbalan (reward and punishment).

Jadi, anak-anak dikembangkan sesuai dengan kemampuannya sendiri. Kalau si anak belum mampu, mereka akan dilatih terus dalam hal itu sampai benar-benar mampu.

"Inti pelajaran montessori adalah menjadikan anak mandiri. Bukan hanya dalam melakukan kegiatan sehari-hari, melainkan juga sebagai independent learner, anak yang mandiri dalam belajar," tandasnya.

Belajar Itu Harus Menyenangkan

Setiap individu itu berbeda, baik dalam hal minat maupun kemampuannya, dan perbedaan ini sangat dihargai di sekolah montessori. Metode montessori dalam pendidikan adalah sebuah model yang melayani kebutuhan anak-anak dari semua level, baik dalam hal kemampuan mental maupun fisik di mana mereka hidup dan belajar secara alamiah.

Pelaksanaan metode montessori selalu up-to-date dan dinamis. Observasi dan pembelajaran berlangsung secara kontinu dan spesifik untuk masing-masing anak. Untuk mengetahui karakter, kemampuan, dan minat anak, maka faktor penjiwaan sangat penting untuk dipahami dan diterapkan oleh seorang pengajar.

Pengajar di sekolah montessori harus sangat kreatif dalam menyampaikan konsep materi. Ini berkaitan dengan fungsinya sebagai pemandu yang harus mengetahui perkembangan masing-masing anak.

Montessori memiliki 3 dasar, yaitu observation (yang dilakukan melalui penjiwaan), private environment (5 area montessori), dan freedom to choose (kebebasan anak untuk memilih permainan).

Dalam metode montessori, pengetahuan tidak diajarkan satu arah, melainkan dengan respek dan konkret material sehingga anak merasakan itu seperti bukan pelajaran, melainkan permainan yang sebenarnya bersifat mendidik.(Koran SI/Koran SI/nsa)

Sabtu, 21 Februari 2009

Masing-masing Anak Perlu Pendekatan yang Berbeda

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM

Principal of Yemayo – Advance Education Center

EQ Certified Trainer, SixSeconds Org, California

Setiap anak memang memerlukan pendekatan yang berbeda. Saya sering dengan berat hati harus mematahkan pernyataan orangtua yang mengatakan, ”saya memperlakukan semua anak saya sama, tidak saya beda-bedakan; cuma yang adik ini susah sekali diatur, saya jadi pusing.” Ada dua hal yang bisa terjadi dengan pernyataan seorang ayah tersebut:

1. Bisa tanpa sadar, sebenarnya orangtua mengarah kepada ’pilih kasih’.

Hal ini sering sekali disangkal oleh orangtua, tetapi sebenarnya ini lebih sering dan sangat sering terjadi. Bagaimanapun, walau anak kandung sendiri, tetapi orangtua tetaplah manusia biasa yang juga sering mudah terpengaruh oleh apa yang dilihatnya dan dirasakannya. Anak yang berparas lucu atau cantik atau ganteng, lebih mudah meluluhkan hati orangtua dibandingkan dengan anaknya yang lain yang terlihat biasa-biasa saja. Anak yang berparas lebih menarik sering mudah dimaafkan jika berbuat kesalahan dibandingkan dengan anak yang berparas kurang menarik. Selain paras, anak yang lebih pandai bersikap manis, lebih mudah membuat orangtua jatuh hati dibandingkan anak yang selalu membangkang. Beberapa pernyataan orangtua jujur yang pernah berkata kepada saya, ada yang berkata, ”yah! Itu memang benar, sebab yang kecil ini kan lama saya nanti, jadi waktu dia lahir, semua perhatian saya full ke dia, tapi bukankah harusnya kakak-kakaknya mengerti bahwa yang kecil ini butuh perhatian lebih?” atau ibu yang lain pernah berkata, ”habis adiknya ini kan terlalu suka cari perhatian, sedangkan kakaknya ini lebih kalem, jadi saya memang bisa lebih dekat dengan si kakak” lain-lain kasus ada juga seorang ayah lebih dekat dengan anak laki-lakinya, karena ia merasa sang anak itulah penerusnya, ada juga seorang ayah yang merasa lebih dekat dengan dengan anak perempuannya, karena merasa anak laki-lakinya terlalu brutal. Nah! Sebenarnya, masing-masing orangtua mempunyai preferensi terhadap anak-anak mereka hal ini lebih diperumit dengan kenyataan bahwa anak-anak mempunyai sifat karakter yang berbeda yang memerlukan pendekatan yang berbeda-beda pula. Atau,

2. Orangtua mempertahankan pola pikir untuk memberlakukan pendekatan yang sama.

Justru dengan memberlakukan pendekatan yang sama, pendekatan orangtua tersebut belum tentu cocok untuk anak yang mempunyai karakter yang berbeda. Jika sepasang orangtua adalah orangtua yang ’pendiam’, maka mereka akan menemukan kesulitan jika harus menerapkan prinsip diam mereka kepada anak yang berkarakter riang ataupun extrovert. Juga sebaliknya, jika sepasang orangtua adalah orangtua yang ’ramai’, maka anak yang introvert merasa terseret-seret jika dipaksakan harus berbicara. Belum lagi jika sepasang orangtua yang seorang pendiam dan yang seorang lagi ramai, anak-anak lebih sulit lagi terbentuk, karena jika ramai di hadapan orangtua pendiam, si anak dimarahi dan sebaliknya, jika diam di hadapan orangtua yang ramai, si anak dimarahi lagi.

Dari 2 hal di atas, sebelum memikirkan tentang pendekatan, anda harus benar-benar terlebih dahulu ”sungguh-sungguh menyadari” bahwa tidak ada masalah ”pilih kasih”, sebab jika anda masih mendapatkan masalah pilih kasih, sebenarnya anda hanya harus mulai menaikkan porsi perhatian pada anak yang kurang mendapat curahan kasih sayang anda. Jika semua anak anda mulai mendapat perhatian yang seimbang, maka segeralah suasana rumah anda berubah lebih indah.

Namun jika anda merasa bahwa tidak ada masalah ”pilih kasih”, maka sekarang anda perlu melihat keluarga anda secara keseluruhan dan memberikan pendekatan yang berbeda pada semua anggota keluarga anda. Ini bukan sesuatu hal yang tidak mungkin; justru sangat mungkin bila anda mulai fokus pada tujuan akhir yang positif.

Sebagai ilustrasi, jika anda mengendari mobil, anda akan memberikan perlakuan yang berbeda pada semua fungsi mekanik mobil, anda tidak mungkin menginjak rem, kopling, gas secara bersamaan, karena itu berarti kalau anda tidak merusak mobil anda, mobil anda juga tidak akan maju kemana-mana. Perlakuan anda terhadap rem, kopling, gas, persneling, setir itu semua berbeda; jika anda telah mahir, semuanya bisa anda lakukan secara otomatis. Mengapa anda mau repot-repot memikirkan dan bergantian menginjak rem, kopling dan gas, dsb-nya... Karena anda fokus pada hal untuk menjalankan mobil tersebut agar dapat mengantar anda ke suatu tempat.

Demikian juga dengan keluarga anda. Anak, suami atau istri, tidak bisa anda teriaki secara bersamaan dan anda berharap semuanya sama-sama mendengarkan anda. Ada yang akan mendengar, ada yang akan berteriak balik kepada anda, ada yang akan menangis, dan berbagai macam lain reaksi yang akan anda dapati... To be continued..........

DO IT NOW !

Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memulai sesuatu
yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun
terkadang sulit dipahami, akibatnya menunda-nunda waktu untuk memulai.
Kesempatan-kesempat an kecil untuk memulai sesuatu dilewati begitu saja,
tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang
berharga.

Memulai sesuatu bukanlah barang mudah. Termasuk memulai sebuah pekerjaan.
Apalagi jika kita pernah menjalani pekerjaan lain sebelumnya. Memulai dari
nol merupakan sebuah langkah yang sangat berat. Walau pepatah bilang bahwa
orang yang sukses itu adalah orang yang selalu mampu bangkit ketika
terjatuh, namun dalam implementasi hal itu sangat sulit dan komplek.
jika seseorang itu sudah berpengalaman dan memiliki tekad dan keyakinan
baja untuk terus maju maka hal itu bisa kita buat sebagai momentum untuk
melakukan sesuatu atau merubah sesuatu.

Memulai sesuatu sama dengan melakukan sesuatu yang baru atau melakukan
perubahan ,ternyata berubah itu tidak mudah. benar kata orang, perubahan itu
sesuatu yang cenderung akan dihindari oleh kita, apalagi jika sebelumnya
dalam status quo kita cenderung untuk menjadi enak dan tidak disusahkan.
kita terlalu menikmati zona nyaman kita, dan pada saatnya kita harus
berpindah atau keluar dari zona nyaman, seketika kita akan cenderung untuk
menolak atau enggan, ataupun jika kita memang sudah keluar dari zona nyaman
itu, kita cenderung untuk menikmatikenyamanan yang kita miliki. kita semua
sesungguhnya memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan atau melakukan
sesuatu, dan itu dapat dimulai dengan langkah tanpa biaya: merubah cara
pandang. Kita semua mampu, tapi tidak semua mau.

Perubahan dan memulai sesuatu yang baru adalah hal yang tidak bisa dielakkan
lagi. Jika kita memiliki kemampuan untuk beradaptasi, maka kita tidak begitu
kesulitan membaca perubahan-perubahan yang sedang terjadi dan bagaimana
menyikapi
perubahan-perubahan itu dengan kreatif. Berani,kesediaan mengambil resiko
gagal. terkdang kita selalu menunda-nunda akan apa yang akan kita kerjakan,
malah hal itu lah yang membuat kita terkadang tidak berbuat apa-apa

Jika kita hidup hari ini ibaratkan sebuah buku, maka buku tersebut hanya
berisikan tiga lembar. Hari kemarin, hari ini dan hari esok. Betapa hebat
hari kemarin itu telah berlalu. Tidak ada satupun yang dapat kita lakukan
untuk mengubah sesuatu yang telah berlalu. Hari esok juga diluar jangkauan
kita. Jika kita ingin berhasil dalam hidup ini, kita harus menaruh perhatian
kita pada apa yang sedang terjadi hari ini, sekarang, Ungkapan yang
menggambarkan hari ini, sekarang, adalah modal dan sesuatu yang sangat
berharga.

Tidak ada apapun yang terjadi di luar hari ini atau sekarang. Tidak ada
sesuatu yang terjadi di hari kemarin atau hari esok. Semua terjadi di hari
ini, sekarang Pusatkan pikiran, tenaga, talenta pada hari ini. Badan kita
kadangkala berada pada hari ini, tetapi pikiran kita mengambang kemana-mana.
Jika kita hidup di hari kemarin atau esok, kita mengambil keputusan dan
tindakan yang diwarnai ketakutan. Takut akan apa yang telah terjadi atau
akan apa yang akan terjadi.Jangan melamun, lakukan sesuatu sekarang. Ingat
bahwa menunda-nunda, adalah kebiasaan yang dapat menghambat kita melakukan
sesuatu sekarang. Kita harus mendaftarkan semua tugas dan berilah peringkat
mana yang harus dikerjakan lebih dahulu, lalu pegang teguh jadwal itu
sebaik-baiknya. Untuk melakukan sesuatu sekarang, kita juga harus mengejar
tujuan, walaupun kita bosan, patah semangat atau perhatian kita teralihkan,
tetapi maju terus.

Sering kali orang sibuk dengan impian, Keingina dan ambisinya karena saking
terlenanya dan selalu berkata Akan masih ada waktu "nanti" jadi lebih baik
ditunda saja dulu. sebenarnya tidak ada gunanya untuk menunda hingga Nanti,
besok atau lusa, keputusannya memang ada di tangan anda tapi waktu yang kita
pilih juga menentukan. Tentunya perubahan yang akan kita lakukan Lakukan
sekarang!

Selasa, 10 Februari 2009

Ciri - ciri kepribadian anak yang sehat

Hingga saat ini, para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam
memberikan rumusan tentang kepribadian. Dalam suatu penelitian
kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan
Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang
kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya,
akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap
lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah
organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang
menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap
lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah
penyesuaian diri. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri
sebagai "suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral
maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam
diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara
keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan
(norma) lingkungan.

Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas
sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya.
Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya,
misalnya konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon, segi kognitif
dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh, sehingga
menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan
dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat beberapa
teori kepribadian yang sudah banyak dikenal, diantaranya : teori
Psikoanalisa dari Sigmund Freud, teori Analitik dari Carl Gustav Jung,
teori Sosial Psikologis dari Adler, Fromm, Horney dan Sullivan, teori
Personologi dari Murray, teori Medan dari Kurt Lewin, teori Psikologi
Individual dari Allport, teori Stimulus-Respons dari Throndike, Hull,
Watson, teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Sementara itu,
Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian,
yang di dalamnya mencakup :

1. Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku,
konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.

2. Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya
mereaksi terhadap rangsangan-rangsang an yang datang dari lingkungan.

3. Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau
ambivalen

4. Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap
rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, marah,
sedih, atau putus asa

5. Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko
dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima
resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang
dihadapi.

6. Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan
hubungan interpersonal. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau
tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri, mulai dari
yang menunjukkan kepribadian yang sehat atau justru yang tidak sehat.
Dalam hal ini, Elizabeth(Syamsu Yusuf, 2003) mengemukakan ciri-ciri
kepribadian yang sehat dan tidak sehat, sebagai berikut :

============ ========= ========= ========= ========= ========= =========

Kepribadian yang sehat :

1. Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri
apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik,
pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.

2. Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi
atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau
menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu
sebagai sesuatu yang sempurna.

3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat
menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional,
tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex,
apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika
mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi
dengan sikap optimistik.

4. Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap
kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.

5. Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan
bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan
diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.

6. Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat
menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau
konstruktif , tidak destruktif (merusak)

7. Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap
aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang
(rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai
tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan
dan keterampilan.

8. Berorientasi keluar (ekstrovert) ; bersifat respek, empati terhadap
orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah
lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan
menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap
orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban
orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.

9. Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial
dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.

10. Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat
hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.

11. Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang
didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi) acceptance
(penerimaan) , dan affection (kasih sayang)

============ ========= ========= ========= ========= ========= =========

Kepribadian yang tidak sehat :

1. Mudah marah (tersinggung)

2. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan

3. Sering merasa tertekan (stress atau depresi)

4. Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih
muda atau terhadap binatang

5. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun
sudah diperingati atau dihukum

6. Kebiasaan berbohong

7. Hiperaktif

8. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas

9. Senang mengkritik/ mencemooh orang lain

10. Sulit tidur

11. Kurang memiliki rasa tanggung jawab

12. Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor
yang bersifat organis)

13. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama

14. Pesimis dalam menghadapi kehidupan

15. Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan

sumber : akhmadsudrajat